MAKALAH : RAGAM BAHASA INDONESIA

Posted by TUGAS KULIAH on Friday, December 16, 2016

1.    Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

a.    Kedudukan Bahasa Indoensia
Bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan yang sangat penting, yaitu:

1) Sebagai Bahasa Nasional
Seperti yang tercantum dalam ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Ini berarti bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Nasional yang kedudukannya berada diatas bahasa-bahasa daerah.




2) Sebagai Bahasa Negara
Tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 (Bab XV Pasal 36) mengenasi kedudukan bahasa Indonesia yang menyatakan bahawa bahasa negara ialah bahasa Indonesia.

b. Fungsi Bahasa Indonesia
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1)    Lambang kebangsaan.
2)    Lambang identitas nasional
3)    Alat penghubung antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya
4)    Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat. 

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1)    Bahasa resmi kenegaraan
2)    Bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan
3)    Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
4)    Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.    Ragam Bahasa
a. Pengertian Ragam Bahasa
            Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.

Menurut Dendy Sugono (1999: 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku. Sumber utama perbedaan bahasa adalah variasi internal seperti tekanan suara yang diberikan, dan variasi eksternal seperti dialek yang disebabkan oleh perbedaan geografis. Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.

            Pendiskripsian terhadap semua level bahasa meliputi: Fenotik (pembunyian), Grammar (tata bahasa), Leksikologi ( kosakata), dan penggunaan gaya bahasa. Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu berdasarkan media, berdasarkan cara pandang penutur dan berdasarkan topik pembicaraan.

b. Jenis-jenis Ragam Bahasa
Adanya bermacam-macam ragam bahasa terjadi karena fungsi, kedudukan serta lingkungan yang berbeda-beda. Ada beberapa ragam bahasa, yaitu:

1)  Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Media
Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa terdiri dari: (1) Ragam bahasa lisan (2) Ragam bahasa tulis. Ragam Lisan dan Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.

Ciri-ciri ragam lisan: (a) Memerlukan orang kedua/teman bicara; (b) Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu; (c)Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh. (d) Berlangsung cepat; (e) Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu; (f) Kesalahan dapat langsung dikoreksi; (g) Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
Contoh ragam lisan adalah ‘Sudah saya baca buku itu.’

Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis, makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat. Ciri-ciri ragam tulis: (a)Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara; (b)Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu; (c) Harus memperhatikan unsur gramatikal; (d) Berlangsung lambat; (e) Selalu memakai alat bantu; (f) Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi; (g) Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.

Contoh ragam tulis adalah ’Saya sudah membaca buku itu.’

Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosakata).

Contoh ragam bahasa lisan berdasarkan tata bahasa (bentuk kata, tata bahasa, struktur kalimat, kosakata):
(1) Nia sedang baca surat kabar.
(2) Ari mau nulis surat.
(3) Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
(4) Mereka tinggal di Menteng.
(5) Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
(6) Saya akan tanyakan soal itu

Contoh ragam bahasa tulis berdasarkan tata bahasa (bentuk kata, tata bahasa, struktur kalimat, kosakata):
(1) Nia sedang membaca surat kabar
(2) Ari ingin menulis surat.
(3) Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
(4) Mereka bertempat tinggal di Menteng.
(5) Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
(6) Akan saya tanyakan soal itu.

Contoh ragam lisan berdasarkan kosakata:
(1) Ariani bilang kalau kita harus belajar.
(2) harus bikin karya tulis.
(3)Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak.

Contoh ragam tulis berdasarkan kosakata:
(1) Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
(2) Kita harus membuat karya tulis.
(3) Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.

Perbedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan: (1) Topik yang sedang dibahas, (2) Hubungan antarpembicara, (3) Medium yang digunakan, (4) Lingkungan,  (5) Situasi saat pembicaraan terjadi.

Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar, dan nonstandard sebagai berikut: (1) Penggunaan kata sapaan dan kata ganti, (2) Penggunaan kata tertentu, (3) Penggunaan imbuhan, (4) Penggunaan kata sambung (konjungsi), dan (5) Penggunaan fungsi yang lengkap.

Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita, dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar, kita akan menggunakan kata gue. Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain.

Dalam ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti. Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang kala, kenyataan ini mengganggu kejelasan kalimat. Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya, Hai, Ida, mau ke mana?” “Pulang.” Sering kali juga kita menjawab “Tau.” untuk menyatakan ‘tidak tahu’. Sebenarnya, pëmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis. Memeng apa yang kita peroleh dari kecil dan apa yang kita peroleh dari pembelajaran meang sedikit mengejutkan terhadap perbedaan antara keduanya. Pemerolehan bersifat spontan sedangkan pembelajaran bersifat terstruktur.

2) Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Cara Pandang Penutur
Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa Indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi. Contoh ragam dialek adalah ‘Gue udah baca itu buku.’ Contoh ragam terpelajar adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’ Contoh ragam resmi adalah ‘Saya sudah membaca buku itu.’ Contoh ragam tak resmi adalah ‘Saya sudah baca buku itu.’

3) Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Topik Pembicaraan
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.
Ciri-ciri ragam ilmiah:
a)    Bahasa Indonesia ragam baku;
b)    Penggunaan kalimat efektif;
c)    Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
d)    Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
e)    Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
f)     Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan sebagai berikut:
a)    Dia dihukum karena melakukan tindak pidana (ragam hukum).
b)    Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon(ragam bisnis).
c)    Cerita itu menggunakan unsur flashback (ragam sastra).
d)    Anak itu menderita penyakit kuorsior (ragam kedokteran).
e)    Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif (ragam psikologi).


 Ragam bahasa baku dapat berupa: ragam bahasa baku tulis dan ragam bahasa baku lisan. Standardisasi (pembakuan) memang sangat diperlukan, pembakuan ini meliputi segala bidang sehingga pemerintah pula harus ikut serta dalam penetapannya. Tahap pertama dimulai dari keputusan presiden no. 57 tahun 1972, dengan diresmikannya ejaan yang disempurnakan (EYD), 27 Agustus 1975 maka ejaan bahasa yang disempurnakan dan pedoman pembentukan istilah. Terdapat dua patokan dalam upaya pembakuan bahasa: patokan yang bersifat tunggal (salah satu dialek) dan patokan majemuk (gabungan beberapa dialek). 


Blog, Updated at: 5:44 PM

0 comments:

Post a Comment

---------------------------------

---------------------------------

DAFTAR ISI POSTING -TUGAS KULIAH

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA ALIRAN-ALIRAN DALAM PENDIDIKAN ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN Aplikasi Teori Belajar Behavioristik Dalam Pembelajaran ARTIS PALING POPULER DI INDONESIA VERSI GOOGLE TRENDS TAHUN 2015 ASPEK NEUROLOGI BAHASA CARA MENGHAPUS PASSWORD ATAU PROTEKSI EXCEL WORD DAN PDF CEK SKTP GURU DASAR DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN EVALUASI PEMBELAJARAN Hakekat Belajar Dan Pembelajaran HAKIKAT PEMBELAJARAN BEHAVIORISTIK DAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA IMPLEMENTASI PENILAIAN SIKAP DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA INILAH KATA KUNCI PENELUSURAN YANG PALING POPULER VERSI GOOGLE TRENDS INOVASI PENDIDIKAN (RESUME BUKU “INOVASI PENDIDIKAN” KARYA UDIN SYAEFUDIN BAGIAN PERTAMA) INTEGRASI PEDAGOGIK DENGAN TIK ISU DAN WACANA MUTAKHIR KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA JENIS MAKNA JENIS MAKNA MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA Kemampuan Berpikir KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH KETERAMPILAN MENULIS KONSEP TOLAK UKUR PARAMETER PENGUKURAN DAN PENILAIAN LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM MAKALAH FILSAFAT ILMU MAKALAH KAWASAN PEMANFAATAN DALAM TEKNOLOGI PEMBELAJARAN MAKALAH KAWASAN PENGELOLAAN DALAM TEKNOLOGI PEMBELAJARAN MAKALAH KAWASAN PENGEMBANGAN DALAM TEKNOLOGI PEMBELAJARAN MAKALAH PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA MAKALAH PENELITIAN SASTRA MAKALAH PSIKOLOGI KOGNITIVE DAN PEMBENTUKAN PENGETAHUAN MAKALAH PSIKOLOGI KOMUNIKASI MAKALAH SUMBER-SUMBER YANG MEMPENGARUHI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN MAKALAH TENTANG INSTRUMEN PENELITIAN MAKALAH: KARYA SASTRA DALAM KAJIAN FILSAFAT ILMU MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA MENDIKBUD TAHU SIAPA PENYEBAR ISU KURIKULUM 2006 AKAN DIBERLAKUKAN KEMBALI TAHUN 2016 MENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KE DALAM PROSES PEMBELAJARAN MERANCANG ATAU MENDESAIN STUDI KASUS META ANALISIS PENELITIAN BAHASA DAN SASTRA DAN CONTOH PENERAPANNYA METODE DISKUSI METODE RESITASI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK MOTIVASI DAN KREATIVITAS SISWA NASIONALISME SEBAGAI SALAH SATU LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI SEKOLAH PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING) PENDAFATARAN MAHASISWA BARU PASCASARJANA UNTIRTA TAHUN 2016 GELOMBANG 1 PENDAFTARAN MAHASISWA BARU PROGRAM PASCASARJANA UGM TAHUN 2016 PENELITIAN PENGEMBANGAN DEVELOPMENT RESEARCH PENERAPAN PRINSIP BELAJAR AKAN LEBIH CEPAT BILA SISWA MEMPEROLEH UMPAN BALIK PENERAPAN PRINSIP DENGAN PERSIAPAN YANG BAIK SISWA DAPAT MENGORGANISASIKAN KEGIATAN BELAJARNYA SENDIRI PENERAPAN PRINSIP PERKEMBANGAN DAN KECEPATAN SISWA DALAM BELAJAR SANGAT BERVARIASI PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN (MAKALAH) PENGERTIAN JENIS DAN TUJUAN STUDI KASUS (MAKALAH) PENGERTIAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PENGERTIAN DAN JENIS MOTIVASI BELAJAR SISWA PENGERTIAN KURIKULUM PENGERTIAN MODEL DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI KOGNITIF (MAKALAH) PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS DATA DALAM STUDI KASUS (MAKALAH) PENILAIAN PRODUK (PRODUCT ASSESSMENT) PERANAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN PERBEDAAN PENDEKATAN MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM (MAKALAH) PERMASALAHAN YANG DIHADAPI TENAGA PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN SERTA PEMECAHANNYA PRESTASI BELAJAR SISWA PRINSIP PRINSIP PEMBELAJARAN PROPOSAL PENGEMBANGAN PUSAT SUMBER BELAJAR (PSB) PROSES PENGEMBANGAN TES BAHASA DAN SASTRA (MAKALAH) RELIABILITAS INSTRUMEN SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLINGUISTIK SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA DIMENSI STRATEGIS STRATEGI PENGEMBANGAN TENAGA PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Sumber-Sumber Pengetahuan Tentang Belajar SUPERVISI AKADEMIK TEORI BELAJAR ATAU TOERI PENDIDIKAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK BERDASARKAN PANDANGAN TOKOH-TOKOH BEHAVIORISTIK Teori Belajar Dan Pembelajaran TUTORIAL MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN POWERPOINT CARA MEMBUAT SKORING KUIS PADA POWERPOINT
CB